- June 18th, 2012
- Handoko Hendroyono
- Opini
- Leave a comment
Seorang teman dekat saya bilang : “Mas, kita ini bangsa konsumen-bukan bangsa produsen. Kita harus bekerja
keras untuk merubah dari bangsa konsumen menjadi bangsa produsen. Bukan karena kita tak memiliki skill atau
craftmanship tapi karena mental kita. Lebih mendasar”.
Demi memperjuangkan tekadnya merubah bangsa konsumen menjadi bangsa produsen banyak pengorbanan dan perjuangan yang dilakukan teman saya itu. Ini memang tak main-main. Entah berapa peristiwa yang sama sekali tak memberi inspirasi apa-apa justru ditonton orang. Kecelakaan di jalan, perselingkuhan majikan dengan pembantu, maling ditangkap massa, suami yang berantem sama istri sampai yang pernah saya alami sendiri jaman SMA dimana kita ditonton banyak orang karena “digrebek” saat mengadakan acara disko rumahan.
Itu contoh sepele yang bisa jadi tak terlalu penting dan signifikan. Poin saya adalah kita seperti terbiasa “mentertawakan” atau “terhibur kalau orang lain sengsara”. Kita seperti tidak memiliki etika untuk menyampaikan rasa prihatin atau sekedar menyampaikan “Sorry” pada saat orang lain sedang tak beruntung. Justru sebaliknya merasa terhibur.
Secara akumulatif hal-hal buruk itu justru yang lebih mendominasi kita dibanding hal-hal yang positif karena kita terlalu sering melihat peristiwa yang memalukan.
Mungkin karena terlalu repot menonton kejadian-kejadian yang suka kita tertawakan, kita menjadi lupa atau tak pernah belajar step by step membuat wayang, menanam padi, membuat patung, membuat batik, menenun, membuat keramik, membuat reog dan lain-lain. Lihat kontrasnya, saat week end sekarang ini kita menjadi penonton di mall-mall. Lihat saja berapa persen yang ada di sebut saja Pondok Indah Mall adalah barang-barang atau Brand-Brand luar negeri. Kitapun berpakaian ala Arab dan Barat. Mengagumi karya orang atau bangsa lain dan mentertawakan karya bangsa sendiri seperti sudah menjadi etika.
WOW
Orang Jawa bilang kita bangsa “Nggumunan”, bangsa yang suka kagum dengan bangsa lain tapi tak mengapresiasi kemampuan diri sendiri. Saya yang bergerak di bidang Marketing dan Branding terkadang gregetan. Begitu banyak potensi yang kita miliki tapi seperti tak mendapat tempat dan bimbingan yang layak. Bersyukur ternyata justru anak-anak muda lah yang melihat ini sebagai peluang. Anak muda adalah motor penggerak dari bangsa konsumen menjadi bangsa produsen. Tak tahu karena naif atau memang jujur, mereka berani bagaikan gerilyawan menerjang rintangan dan tantangan.
Geriyawan-gerilyawan inilah yang tak banyak bicara membuktikan kemampuannya. Anak-anak muda ini seperti diam-diam membuktikan pada bangsanya bahwa mereka bukan golongan konsumen. Lihat saja @darbotz seorang street artist direkrut oleh Nike untuk diajak berkolaborasi. Atau sahabat saya LeotheGOODSdept yang menghimpun Brand-Brand lokal di Grand Indonesia. Mereka berjuang sendiri tanpa support dan bagi saya prestasi mereka sangat WOW! Saya hanya takut apresiasi kita sudah terlanjur buruk.
Optimisme saya bertambah sekarang justru karena anak-anak muda yang mau mengapresiasi karya-karya sejawatnya. Anak-anak muda tak lagi mentertawakan karya bangsa sendiri. Mudah-mudahan mentalitas bangsa kacung mulai luntur dan menghilang.
HARGA DIRI
Saya jadi teringat bagian belakang lirik lagu GURUH GIPSY yang berjudul “Janger 1897 Saka” sebuah album yang saya anggap karya brilyan. gerilya eksperimental.
…Kalau kawan tak hati-hati bisa punah budaya asli
Kalau punah budaya asli harga diri tak ada lagi.
Saya berharap spirit gerilya dan eksperimen tumbuh subur saat ini. Cukup kuat dan rasional kenapa situasi kini justru
saatnya untuk tumbuh kepercayaan diri. Saat yang tepat untuk berubah dari bangsa konsumen menjadi bangsa produsen, dari bangsa penonton menjadi bangsa yang naik panggung.
Gerilyawan-gerilyawan itu dalam bahasa marketing yang saya pelajari masuk dalam golongan REBEL SELL; bahwa yang memberontak justru sekarang menjadi pasar yang potensial. Konsep-konsep mapan menjadi usang dan tidak COOL lagi. Referensi yang lain menyebutkan saat ini masanya PUNK MARKETING; saat dimana kaum pinggiran justru mendapat kesempatan untuk naik ke panggung dan membuktikan karya-karyanya. Tak mengapa dan maaf kalau saya memakai terminologi marketing yang juga barat. Anggap saja untuk mampu menyaingi kemampuan memproduksi bangsa lain terutama barat kita harus menguasai ilmunya. Bukankah dulu Snouck Hurgronje belajar berbulan-bulan memahami budaya Aceh yang kemudian menjadi bahan untuk menaklukkannya.
Saya berharap dan yakin justru REBEL-REBEL atau kaum INDIE yang akan merubah jagad Indonesia minimal di tingkat spirit untuk tak menjadi penonton, tak menjadi bangsa konsumen saja. Saya pada satu titik tak percaya lagi kekuatan kaum mainstream kita. Pikiran mainstream sudah sulit untuk berubah. Mereka terlalu mapan dan memang sudah terlalu nyaman untuk menjadi penonton.
DARI BUDAYA PENONTON MENUJU BUDAYA DIY
DIY atau Do It Yourself ternyata tumbuh di kalangan anak-anak muda. Mereka menekuni sesuatu yang tak lazim sebelumnya. Atau mereka menggali sesuatu yang dulu tak cool menjadi cool lagi. Makanan tradisional menjadi keren di tangan mereka. Tempat-tempat baru menjadi lokasi seksi untuk pariwisata di tangan anak-anak muda. Bahan-bahan kain tradisional menjadi sesuatu yang berharga karena diolah dengan baik oleh anak-anak muda. Mereka tak pernah diajari oleh generasi pendahulunya yang sibuk menjadi bangsa konsumtif. Mereka belajar sendiri, mencari informasi sendiri dan mengolahnya sendiri. Memang terasa berat bagi mereka ketika pasar di Indonesia etalasenya sudah dipenuhi oleh barang-barang yang kita kagumi bertahun-tahun oleh produsen luar negeri.
Pertanyaannya apakah kita masih tetap menjadi penonton yang “Nggumun” terhadap karya orang asing dan sambil mentertawakan bangsa sendiri sampai mereka gagal. Menurut saya kita bangsa yang sangat kejam pada diri sendiri.




