MART ATTACK!

Waktu demi waktu anak muda selalu memiliki tempat nongkrong yang “cool”.  Anak muda adalah penentu tempat tongkrongan. Entah sejak kapan ini terjadi, sejak Republik ini berdiri anak muda lah yang menentukan arah tren.  Lebih dalam lagi kalau diperhatikan, anak muda adalah pengacak budaya yang dengan berani merubah pola konsumsi massa.

Sejarah “konsumerisme” tak bisa dilepaskan dari peristiwa besar yang bernama “Woodstock”, sebuah perayaan anak muda tepatnya kaum hippies. Kenapa Woodstock perlu saya singgung disini? Karena counter trend secara alami menjadi penentu arah masa depan konsumerisme.  Bukankah brand-brand besar justru mendompleng kultur ini? Sebut saja VW atau Nike yang ikut angin budaya berontak ini. Sah-sah saja menurut saya.

Lalu apa artinya tiba-tiba Jakarta diserbu oleh wabah mini mart dan juga wabah mall. Sampai-sampai teman saya Indah Esjepe membuat gerakan WIKEN TANPA MALL!

THE SCHIZOPHRENIC CONSUMER

Sebuah mini mart dengan cahaya super terang dikunjungi banyak anak muda, ada yang berdiri dan ada yang duduk layaknya sebuah bar. Cahaya super terang itu mengingatkan saya pada sinar pemancing laron untuk berkumpul. Ya, anak muda Jakarta seperti laron. Mereka berkumpul karena mungkin rasa gelap dan kesepian yang dirasakan. Mungkin ada keinginan yang tak disadari betapa sinar terang begitu dibutuhkan. Hati gelap dibutuhkan terang.

Etalase-etalase itu menjadi kebutuhan anak muda Jakarta.  Bagi marketer perasaan hampa, ruang sunyi dan kegilaan adalah peluang. Bagi brand tak ada salahnya memberi setetes kesenangan ditengah belantara kota. Pada ujungnya semua orang harus survive.

Menjadi pemandangan biasa beberapa mini mart buka 24 jam. Kelihatannya sepele, tapi secara tak sadar kita semakin memasuki dunia yang semakin longgar aturan. Bebas!  Menjadi kelaziman baru dan standar baru yang akhirnya menjadi sistem karena melibatkan infra struktur yang besar.

Beberapa mall membuat sensasi jualan tengah malam hampir subuh. Kaum urban seperti butuh atensi yang sedikit nekat. Dan ini semua berhasil! Apakah artinya ini? Apakah kita penghuni ruang urban demikian kehabisan ruang karena didesak rasa stres yang sangat akut? Tak perlu dijawab secara ilmiah menurut saya.

Tak sampai sebulan Bintaro tempat saya tinggal telah dibuka sekitar 6 mini mart. Tanda apakah ini? Silakan dimaknai sendiri-sendiri; ekonomi membaik, terpinggirkannya kios-kios pedagang kecil atau semakin stres orang Jakarta. Yang  jelas Kla Project pun berani dan sukses jualan albumnya di mini mart ini. Sebuah tanda perubahan yang CHAOTIC sedang terjadi menurut saya. Jualan musik bukan ditoko musik. Jualan makanan / fast food bukan di fast food restaurant. Jualan kondom bukan di apotik.

Cara jualan yang radikal menjadi sangat efektif saat ini. Radikalisme telah menyebar kemana-mana spiritnya. Pakaian yang sangat terbuka laku. Pakaian yang sangat tertutup laku. Fashion yang sangat mahal laku. Pakaian yang sangat murah laku. Saya khawatir apa yang normal-normal saja menjadi tidak laku lagi dijual.

TREND HUNTING

Trend dan Counter trend seperti bersahut-sahutan kini melanda dunia konsumsi. Jangan salah, pemilik-pemilik mini mart pun menurut saya pantas ketar-ketir dengan perubahan tren yang selalu dipelopori oleh anak muda. Siapa yang bisa menjamin bisa “megang” arah anak muda menuju ke satu arus budaya baru. Tak heran Trend Hunting akan menjadi disiplin berpikir marketer urban. Perubahan yang sangat cepat harus dipahami dan kalau bisa malah diciptakan. Saat ini anak muda sangat berkuasa. Sebagai wakil audience yang paling diperhatikan gerak arahnya, anak muda akan menjadi penentu gerak bisnis. Anak muda yang sekarang bisa disebut sebagai Netizen memiliki spirit partisipasi yang kuat. Berdaya untuk menolak, berdaya untuk akur dan berdaya untuk seenaknya sendiri.

Sesuatu yang keren menjadi barang buruan saat ini. Karena keren menjadi penentu saat ini. Masing-masing orang secara ekstrim akan berhak menentukan makna keren sendiri-sendiri. Serbuan mini mart, mall dan ruang-ruang komersial lain sayangnya tak diimbangi ruang-ruang kontemplasi yang menyejukkan pikiran.

Adalah ironis cepatnya membangun mini mart atau mall-mall tak diimbangi dengan cepatnya pembangunan fasilitas umum seperti jalan raya, trotoar atau sekedar taman kecil. Sampai kapan ini akan terjadi? Harus diakui, senang tidak senang inilah refleksi manusia perkotaan yang sedang terjadi.

Serbu… serbu… dan kita pun berteriak serbu… serbuuuuuuu…

Menyerbu mini mart atau shopping mall ditengah malam dengan antusias dan penuh semangat menenteng stres yang penuh dipundak kita.

The Author:
Handoko Hendroyono
Creative storyteller. Passionate terhadap dunia marketing / strategi / komunikasi. Mencintai seni. Menulis dibeberapa majalah marketing dan gaya hidup. Director film iklan dan sangat tertarik pada TREND konsumen.
  • Udik

    Sejarah telah membuktikan dimana-mana perubahan selalu dimulai oleh dan dari anak muda. Ide brandgardener adalah ide brilliant untuk memberi wawasan pada para anak muda agar mereka lebih kritis melihat perubahan lingkungan dan perubahan kemasa depan lebih baik untuk lingkungan dan terutama yang lebih penting untuk mereka sendiri. Terasa lebih optimis melihat masa dapan … Salam, Udik 

  • Handoko

    Thanks. Semoga bermanfaat dan berkelanjutan.

  • Arief

    Good view Mas, seneng mendapat pencerahan di sini, makasih telah menjadi terang :)

  • Novita Sianipar

    nice post!! seneng baca nya..

  • Karwoto Hartanto

    Anak Muda Kreatif jaya

    Anak muda Indonesia Berkarya..

    Merasa Anak Muda Indonesia dan Mencintai produk indonesia visit:

    http://shoppingtime-online.blogspot.com

Subscribe to our FREE e-newletter. Click here